Merendahkan Suara

Oleh: Ulis Tofa, Lc

dakwatuna.com - Manusia secara alami lebih cenderung kepada kebaikan, kuat potensi fitrahnya, hidup hati nuraninya, dan lebih condong pada sikap dasar manusia. Manusia berubah dari sifat dasar kemanusiaan menyamai perilaku binatang karena dipengaruhi oleh lingkungan dan tentunya musuh abadinya, yaitu iblis. Karena itu Islam diturunkan di muka bumi adalah dalam rangka untuk menjaga bangunan akhlak manusia dan menyempurnakan kepribadian manusiawi mereka. Pesan ini ditegaskan sendiri secara langsung oleh Rasulullah saw dalam sabdanya,

“Saya hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Bahkan akhlak yang mulia menjadi cermin kekuatan dan ketinggian iman seseorang. Dengan kata lain, semakin baik akhlak seseorang, semakin terpuji moral seseorang, itu menunjukkan kadalaman dan kualitas imannya. Keduany laksana dua sisi mata uang. Rasulullah saw bersabda,

“Paling sempurna keimanan seorang mukmin adalah yang paling baik akhlaknya.”

Kalau ditelusuri secara mendalam, bahwa semua peribadatan yang diperintahkan Allah swt adalah dalam rangka untuk membentuk akhlak mulia dan kepribadian yang mempesona. Sehingga ritual ibadah bukanlah kosong tanpa makna, ketaatan bukan kering tanpa ruh, gerakan dan ucapan bukan tanpa arti.

Ibadah shalat misalnya, shalat yang dilaksanakan dengan benar sesuai ketentuannya akan mampu melahirkan bagi pelakunya benteng-benteng akhlak yang berlapis. Tidak hanya menjadi pribadi yang baik, bahkan mampu menjaga pelakunya dari kejahatan dan kemunkaran.

Allah swt berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Ankabut : 45

Salah satu bentuk akhlak mulia itu adalah khafdhus shauth.

Pengertian Khafdhus Shaut

Khafdhus Shauth berasal dari dua akar kata. Khafdhu dan shauth. Khafdhu artinya merendahkan atau meneduhkan. Shauth artinya suara atau omongan. Khafdhus Shaut berarti merendahkan suara saat berbicara, bercakap, berkomunikasi bahkan ketika berdo’a dan melaksanakan taqarrub ilallah swt.

Lisan atau lidah adalah sarana yang fital dan mudah digunakan. Fital karena sebagai penyampai maksud dan informasi dan mudah karena boleh jadi lisan mengucapkan tanpa disadari oleh pelakunya alias asbun.

Karena itu Rasulullah saw memberi taujih atau arahan bagaimana seharusnya menggunakan lisan dalam sabdanya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Bukhari

Maskud lain hadits ini adalah jika berbicara itu dengan menghormati orang yang diajak berbicara, memperhatikan keselarasan intonasi suara, tidak meledak-ledak yang menunjukkan sikap emosional dan hawa nafsu dalam dirinya, sekaligus tidak terlalu rendah sehingga tidak bisa didengar. Jika tidak bisa melakukan hal yang demikian, hendaklah diam.

Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda,

“Barangsiapa yang Allah jaga dari keburukan apa yang diakibatkan dari lisan dan kemaluan , ia akan masuk surga.”

Bentuk menjaga lisan di sini juga berarti merendahkan suara, selain juga tidak menyakiti orang lain, adu domba atau berkata jorok.

Merendahkan suara tidak hanya ketika berhubungan dengan sesama manusia, namun juga berhubungan dengan Sang Pencipta. Mislanya ketika shalat, berdo’a dan ibadah taqarrub lainnya. Allah swt berfirman,

”Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Al Isra’ / 17 : 110).

”Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Maryam / 19 : 3)

”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al A’raf / 7 : 55)

Lembutkan Hati

Tampilan lahiriyah seseorang menunjukkan kondisi hati sebenarnya orang tersebut, dan pengungkapan dzahir seseorang mewakili isi hatinya. Rasulullah saw menegaskan hal ini dalam sabdanya,

”Ingatlah bahwa dalam diri seseorang ada segumpal daging, jika daging itu baik maka seluruh anggota badan akan baik, jika sepotong daging itu buruk maka buruklah seluruh anggota badan. Ingatlah bahwa sepotong daging itu adalah hati.”

Disini nampak pentingnya mengkondisikan suasana hati. Suasana hati senantiasa dalam dzikrullah, ketaatan dan pengawasan Allah swt.

Jika suasana hati tidak diisi dengan hal yang demikian, maka pasti ia akan diganti oleh setan dengan hal-hal yang buruk.

Bentuk tipu daya setan bisa berupa mengumbar omongan, mengeraskan pembicaraan dan tidak menghormati orang lain. Padahal Allah swt memerintahkan kita untuk menjaga lisan dan tidak mengumbarnya apalagi berkata yang tidak baik, sehingga akan menodai kepribadiannya.

”Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Lukman : 19)

Bentuk tipu daya setan yang lain adalah amarah dan dendam kesumat. Amarah dan dendam kesumat akan mengeraskan dan menodai hati. Makanya Rasulullah saw ketika dimintai nasehat oleh salah seorang sahabatnya tentang urusan agama –yang sangat kompleks- namun beliau jawab dengan singkat, hanya dua kata, ”Jangan marah”.

Dari Abu Hurairah berkata, seseorang datang menemui Rasulullah saw dan meminta diajarkan perkara agama dan ia meminta untuk tidak banyak-banyak sehingga tidak memberatkan, maka Rasulullah saw menjawab, “Jangan marah. Orang itu bertanya sampai tiga kali, dan dijawab Rasulullah saw dengan jawaban yang sama, “Jangan marah.”

Menghindari Fitnah

Bagaimana dengan muslimah ? Apa batasan merendahkan suara ?

Suara bagi muslimah adalah aurat yang harus dijaga. Batasan merendahkan suara bagi mereka adalah ketika suara itu tidak mendorong orang yang mendengarnya untuk menggoda dan melakukan perzinahan.

Allah swt berfirman,

“Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”(Al Ahzab / 33 : 32)

Ayat ini tidak hanya berkenaan dengan istri-istri Nabi, tapi berlaku untuk kaum muslimah secara keseluruhan.

Kalau kita lihat kejadian-kejadian yang menimbulkan perselisihan, pertengkaran bahkan saling membunuh lebih banyak karena kelancangan lisan dan terlukainya hati. Untuk menghindari itu, Islam telah menetapkan cara antisipasi berupa: anjuran untuk merendahkan suara, menaham amarah, dan berdiam diri.

Nash-nash yang dibahas di sini serta contoh konkrit Nabi Muhammad yang akan dibahas menjadi bukti Indahnya Islam tersebut.

Teladan Rasul

Sungguh dalam diri Rasul ada suri teladan yang baik. Inilah jenak-jenak kehiduapn beliau yang indah yang seyognya diteladani oleh setiap orang.

Tatkala beliau ditarik selendangnya dengan kasar oleh seorang yahudi dan menagih utangnya dengan tidak sopan, Rasul tidak membalas dengan ucapan menghardik atau pekikan marah. Justru umar yang dengan tegasnya meminta agar dirinya memenggal kepala orang yang tidak sopan itu. Rasul hanya bertanya padanya, Berapa tanggungan saya ? Dan akhirnya beliau menyuruh sahabatnya untuk mengambilkan uang di Baitul Mal kaum muslimin dan melunasinya.

Rasul juga tidak pernah membalas perlakuan orang-orang musyrik Quraisy yang setiap hari menyakitinya dengan sumpah serapah atau umpatan amarah.

Atau perlakuan Rasul terhadap seorang yahudi yang buta yang setiap hari mengumpat beliau setiap kali melewatinya saat akan melaksanakan shalat. Justru Rasul menyuapinya dengan sangat perhatian dan kelembutan. Sepeninggal Rasul, si yahudi ini heran, orang yang sekarang menyuapi dirinya dirasakan tidak sama dengan orang yang sebelumnya. Abu Bakar yang menyuapinya menggantikan Rasul menjawab, ”Yang anda maksud adalah Muhammad utusan Allah.” Seakan disambar petir di siang bolong, ia terkesima; orang yang selama ini saya jelek-jelekkan, menyuapi dirinya dengan tekun. Sungguh ajaran yang dibawanya sangat mulia. Ketika itu ia mengucapkan Syahadat.”

Bagaimana Rasulullah saw berkomunikasi dengan keluarganya ? Dengan anak-istrinya ? Kita temukan di banyak riwayat bahwa beliau selalu berkata lembut, ramah, dan panggilan kasih sayang. Dengan istri-istrinya beliau selalu menyenangkan dan membahagiakan mereka dalam beragam bentuknya. Dengan anak-anak, beliau selalu mengecup kening dan mencium pipi dengan kasih sayang. Merendahkan suara, jauh dari sikap kasar dan omongan menyakitkan.

Hikmah Merendahkan Suara

1. Menyebabkan kasih sayang Allah swt. Bahwa salah satu bentuk kasih sayang terhadap orang lain adalah berkata sopan dan merendahkan suara.

“Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi Ar Rahman. Sayangilah orang yang berada di muka bumi, pasti yang di langit akan mengasihimu.”

2. Menunjukkan tingginya kepribadian dan akhlak mulia, yang berarti menjadi mulia di sisi Allah swt, “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat : 13)

3. Menumbuhkan kecintaan dan kedekatan.

“Tidak termasuk umatku, orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda.” .

Bentuk kecintaan dan kedekatan adalah merendahkan suara terhadap yang tua dan mengasihi yang lebih muda.

Allahu a’lam.

dapet dari sini

No comments:

Feed

Sampaikan Walau Satu Ayat

↑ Grab this Headline Animator

Subscribe to Sampaikan Walau Satu Ayat by Email

I heart FeedBurner

Powered By Blogger